Wiranto: Pemerintah Tidak Akan Berunding Dengan Penjahat

by -229 views

GardaIndoNews –¬†GardaIndonews: Pemerintah Indonesia secara tegas menolak permintaan kelompok separatis Papua untuk mengadakan negosiasi ulang tentang penentuan nasib sendiri wilayah Papua. Penolakan Pemerintah RI terhadap tuntutan kelompok separtis bersenjata Papua menyusul serangan keji pada tanggal 2 Desember di sebuah proyek konstruksi yang menyebabkan sedikitnya 17 orang tewas.

Aksi separatis Papua Merdeka makin meningkat eskalasinya erontakan di Papua sejak era Pemerintahan Jokowi yang dinilai lemah dan memberi angin kepada kaum separatis.

“Kami tidak akan berbicara dengan penjahat,” kata Menko Polhukam Wiranto, Rabu (12/12) minggu lalu, pada kesempatan konferensi pers, di Jakarta.

Sebagaimana dilaporkan Washington Post pada Selasa 11 Desember 2018 lalu, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat sayap militer Gerakan Papua Merdeka, Sebby Sambon mengatakan dalam sebuah wawancara telepon Jumat lalu bahwa serangan terhadap proyek konstruksi pemerintah dilakukan oleh mereka karena kelompok itu yakin proyek tersebut terkait operasi militer Indonesia (TNI)

Sambon meminta pemerintah untuk menyetujui pembicaraan damai yang serupa dengan yang mengarah ke provinsi lain, Aceh, menjadi semiotonom, atau “referendum nyata” mengenai kemerdekaan, seperti yang terjadi di wilayah Indonesia sebelumnya di Timor Timur.

Wiranto mengatakan bahwa pemerintah tidak akan membuka pembicaraan dengan kelompok bersenjata, yang katanya mencoba menanamkan rasa takut ke orang-orang.

Pasukan keamanan telah mengevakuasi 17 mayat pekerja yang terlibat dalam pembangunan jembatan di salah satu jalan trans-Papua, kata jurubicara Kodam Cendrawasih Kolonel Muhammad Aidi. Seorang tentara di pos militer dekat lokasi penyerangan juga dilaporkan tewas.

TNI telah menyelamatkan 27 orang, termasuk tujuh pekerja, dan sedang mencari empat orang lainnya dengan luka tikaman yang masih hilang. Aidi mengatakan kubu pemberontak di distrik Nduga menyerang sebuah pos militer yang dibangun kembali hari Selasa di distrik yang sama, melukai dua tentara dalam tembak-menembak.

Kapolri Tito Karnavian memperkirakan kekuatan kelompok bersenjata di distrik itu pada tidak lebih dari 50 orang dengan sekitar 20 senjata api, dan mengatakan lebih dari 150 polisi dan tentara telah dikirim untuk memburu para pelaku.

Lebih dari 1.500 penduduk desa di desa Mbua, Yall dan Yigi telah melarikan diri ke hutan karena pertempuran, yang menurut saksi telah meningkat di distrik pegunungan sejak pekan lalu dan menewaskan sedikitnya empat warga sipil.

Seorang pendeta Kristen dari gereja Kingmi, Benny Giay, mengatakan dua dari empat pria itu adalah anggota majelis gereja. Mereka dibunuh di dalam gereja oleh pasukan keamanan selama proses evakuasi mayat pekerja dan penyintas di desa Mbua dan Yigi antara 4 dan 5 Desember, katanya. Empat warga desa lainnya dilaporkan terluka.

Giay mengatakan penduduk desa yang melarikan diri ke hutan pegunungan berada dalam bahaya sakit karena kedinginan dan kelaparan.

“Semua korban itu tidak suka berkelahi,” katanya. “Kami mendesak semua pihak untuk menahan karena warga sipil yang tidak bersalah akan menjadi korban dalam konflik bersenjata ini.”

Dalam sebuah wawancara telepon dengan The Associated Press Jumat lalu, Sambom, yang mengklaim bahwa para pemberontak memiliki 29 perintah wilayah operasional di Papua, masing-masing dengan 2.500 anggota, berjanji untuk mengintensifkan perjuangan kemerdekaan Papua dengan serangan-serangan gerilya.

Leave a Reply