Saya Bermimpi Jadi Prabowo (III)

by -326 views

Oleh: Alfian

Saya, Prabowo Subianto sadar sepenuhnya telah jadi korban kebodohan sendiri ketika memutuskan mengusung dan membantu paslon Jokowi – Ahok di Pilkada Jakarta 2012. Saya telah jadi korban ‘deception‘ atau pengelabuan para lawan politik. Kesalahan sama kembali saya ulangi pada pemilu presiden (pilpres 2014). Kemenangan saya dalam perolehan suara tidak mengantarkan saya dan Hatta Rajasa menjadi presiden-wakil presiden terpilih pada 2014. Kesalahan ini terasa sangat menyakitkan. Untuk itu saya bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama pada Pemilu 2019.

Pembersihan Internal Partai

Langkah pertama agar saya terhindar dari kesalahan yang sama adalah melakukan pembersihan internal Partai Gerindra. Untuk memastikan partai bebas dari penyusupan agen pihak musuh, maka saya mengganti semua pengurus yang terbukti telah menjerumuskan saya pada Pilkada Jakarta 2012 dan Pilpres 2014, termasuk para staf yang selama ini diketahui sangat dekat dengan saya.

Langkah kedua adalah menerapkan prinsip ‘trust no¬† body‘. Saya tidak boleh terlalu mempercayai seseorang hanya karena kedekatan secara pribadi. Saya harus mengedepankan akal sehat dan kehati-hatian. Segala sesuatu yang bersifat rahasia atau tetap menjadi rahasia saya tanpa harus diketahui pihak lain termasuk orang-orang terdekat saya.

Langkah ketiga adalah menjalankan peran menjadi orang bodoh untuk menangkap orang bodoh. Dengan peran ini saya harus bertindak dan bersikap seolah-olah tidak mengetahui rencana pihak lawan yang akan mencurangi pemilu 2019 agar mengalahkan saya dengan segala cara.

Oleh sebab itu, saya memutuskan tetap maju sebagai capres 2019. Ketika saatnya tiba, yakni pada saat KPU menetapkan 32 juta pemilih tambahan, mengabaikan temuan BPN yang telah disampaikan kepada KPU bahwa terdapat minimal 17.5 juta pemilih diduga ilegal pada DPT, dan penetapan KPU yang menambah 267 ribu TPS baru, maka saya menyatakan mundur dari capres 2019.

Mundur Dari Pencapresan

Keputusan mundur dari pencapresan, saya sampaikan melalui konferensi pers yang dihadiri ratusan wartawan dari media dalam dan luar negeri.

Pada konferensi pers itu saya sampaikan poin-poin sebagai berikut:

Saya, Prabowo Subianto telah mendaftar sebagai capres pada Pemilu 2019. Salah satu alasan saya mendaftar jadi capres adalah karena keyakinan saya bahwa pemilu 2019 akan dapat berlangsung secara jujur dan adil. Hanya pemilu yang jujur dan adil yang dapat menjamin terwujudnya kedaulatan rakyat Indonesia sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 1 UUD 1945.

Saya, Prabowo Subianto pada awalnya berkeyakinan pemerintah dan KPU akan menjamin terselenggaranya pemilu yang jujur dan adil. Karena hanya dengan pemilu yang jujur dan adil, demokrasi Indonesia dapat dipertahankan untuk hidup, tumbuh dan berkembang.

Namun, setelah mencermati dan mempelajari seksama proses penyelenggaraan pemilu 2019 sejak disahkannya UU Pemilu No.7 Tahun 2017 sampai pada penetapan DPT dan penambahan 267 ribu TPS baru oleh KPU, saya berkesimpulan bahwa penyelanggaraan pemilu 2019 secara jujur dan adil mustahil dapat terwujud. Kesimpulan saya semakin kuat ketika menyaksikan sendiri gejala-gejala tidak sehat yang melanggar hukum dan peraturan perundang-undangan melalui sikap tidak netral atau pemihakan yang ditunjukan oleh berbagai institusi pemerintah dan lembaga negara terkait pemilu 2019.

Saya, Prabowo Subianto menjunjung tinggi konstitusi dan UU. Saya tidak ingin terlibat dalam proses penyelenggaraan pemilu yang tidak jujur dan tidak adil. Saya tidak ingin menjadi bagian dari kejahataan besar terhadap demokrasi. Saya tidak rela demokrasi Indonesia diperkosa dan kedaulatan rakyat dirampok oleh para mafia pemilu.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, dengan ini saya, Prabowo Subianto menyatakan mundur dari capres 2019.

Saya bersedia kembali menjadi capres jika semua pelanggaran hukum dan semua indikasi pencurangan pemilu 2019 telah ditindak secara tuntas. Saya hanya bersedia meneruskan pencapresan pada pemilu yang dijamin bersih, jujur dan adil.

(Bersambung)

Leave a Reply