Saya Bermimpi Jadi Prabowo (II)

by -398 views

Oleh: Alfian

Setelah mempelajari hasil laporan tim khusus yang mengkaji dan menganalisa seputar kekalahan saya dan Hatta Rajasa pada Pilpres 2014, saya segera mengambil keputusan sebagai berikut:

1. Beberapa staf dan pengurus teras Partai Gerindra saya mutasi, terutama oknum-oknum yang diduga kuat menjadi agen ganda dan telah berkhianat pada Pilpres 2014
2. Membentuk think thank /lembaga kajian strategis yang bersifat permanen untuk membantu saya dan partai dalam memahami dinamika dan konstelasi politik serta membantu dalam pengambilan keputusan strategis.
3. Membentuk beberapa tim kecil, sebut saja tim Alfa, Bravo, Charlie, Delta dan seterusnya di luar yang merupakan unit di luar struktur partai Gerindra untuk menjalankan fungsi intelijen, operasi khusus dan tugas – tugas tertentu.

Semua tim ini bertanggungjawab langsung kepada saya selaku pribadi dan dijamin steril dari infiltrasi agen musuh atau pengkhianat. Untuk memastikan kerahasiaan, sistem sel diterapkan sehingga antara tim satu dengan tim lain tidak saling mengenal. Saya akan melakukan apa saja demi menjaga kerahasiaan dan mencegah terulangnya infiltasi para agen lawan dan pengkhianat di internal tim sukses.

Dari hasil laporan atas penugasan tim-tim kecil ini saya mendapat informasi lengkap yang sangat membantu saya untuk memahami memahami dinamika dan konstelasi politik. Saya menjadi tahu mengenai posisi politik tokoh-tokoh tertentu, para ketua partai politik, para pimpinan lembaga negara dan pemerintah terutama KPK, KPU, Bawaslu, serta TNI dan Polri. Saya menjadi lebih mudah dalam memprediksi langkah dan manuver mereka.

Tim kecil ini juga melaporkan bahwa serangan fitnah dan pembentukan opini negatif terhadap diri saya dilancarkan secara masif dan sistematis di luar negeri melalui jaringan media internasional. Saya, Prabowo Subianto dicitrakan sebagai sosok ambisius, penerus diktator Pak Harto, pendorong dan penunggang kelompok mayoritas Islam radikal di Indonesia. Fitnah dan rekayasa opini sesat mengenai diri saya juga terjadi di dalam negeri melalui pemberitaan banyak media massa yang terafiliasi dengan para lawan politik, namun serangan fitnah dan stigmasasi negatif itu tidak segencar dan semasif di luar negeri. Saya memahami sepenuhnya bahwa serangan fitnah dan pembentukan opini keliru tentang diri saya ini untuk mencegah timbulnya dukungan internasional kepada diri saya, sekaligus menutup akses bagi saya untuk menjalin komunikasi dan meraih dukungan dunia.
Dukungan internasional sangat penting dalam pemilu – pilpres. Setidaknya, tidak ada penolakan atau sikap antipanti dunia internasional terhadap kandidat tertentu yang bertarung dalam pemilu. Sikap antipanti dan penolakan dunia internasional ini yang sedang dikembangkan para lawan politik terhadap diri saya. Strategi ini adalah faktor kunci bagi para lawan politik untuk menggagalkan meraih kemenangan dan menjadi Presiden Indonesia terpilih. Penempatan diri saya (positioning) sebagai musuh dunia akan memudahkan para lawan politik melakukan apa saja termasuk pencurangan pemilu tanpa harus mengkhawatirkan kecaman, teguran, intervensi, sanksi dunia. Pemahaman ini sangat membantu saya dalam menentukan sikap pada Pemilu 2019 mendatang.

Pemilu – Pilpres 2019
Dengan bantuan tim kecil yang bekerja secara rahasia, saya – Prabowo Subianto menyimpulkan bahwa Pemilu 2019 sudah didesain untuk memenangkan petahana dengan segala cara. Artinya, tidak ada guna bagi saya atau siapa pun untuk maju sebagai calon presiden 2019, kecuali saya dapat menemukan strategi yang tepat untuk mengalahkan petahana dengan segala kecurangannya.

Melalui pertimbangan matang, akhirnya saya putuskan tetap maju sebagai calon presiden 2019 untuk memungkinkan saya berhadapan langsung melawan segala upaya pencurangan.
Dapatkah saya memenangkan Pilpres 2019 yang sudah diskenariokan akan memenangkan petahana, berapa pun harganya (at all costs)? Jawabnya adalah dapat.

Ya, saya dapat memenangkan pilpres 2019 karena saya- Prabowo Subianto sudah tahu sepenuhnya rencana petahana dan para lawan politik. Saya sudah tahu siapa lawan dan teman, siapa loyalis dan pengkhianat. Saya sudah tahu modus yang sedang dan akan digunakan untuk mencurangi saya dalam pilpres mendatang. Singkatnya, menang atau kalah dalam pilpres 2019 tergantung sepenuhnya pada kemampuan saya dalam menyusun dan menjalankan strategi yang tepat.

Berbagai literatur politik khususnya terkait strategi pemilu, selalu menyebut penguasaan komunikasi politik dan lembaga sebagai faktor utama untuk meraih kemenangan dalam pemilu. Kedua instrumen politik itu sudah dikuasai mutlak oleh petahana. Jaringan media nasional dan internasional sebagai pembentuk opini publik dan lembaga seperti KPU, KPK, Bawaslu, MK dan lain-lain sudah dalam genggaman petahana. Dengan sumber daya tidak terbatas, petahana sangat mudah mengoptimalisasi efektifitas kedua instrumen utama itu.

Jalan meraih kemenangan pilpres 2019 seolah tertutup bagi saya. Namun mengutip kata pepatah: Tidak hanya satu jalan ke Roma. Saya, Prabowo Subianto akan memenangkan pemilu – pilpres dengan menggunakan kelemahan saya sebagai kekuatan dan menggunakan kekuatan lawan sebagai kelemahan. Apakah itu?

(Bersambung)

 

*Direktur Pusat Kajian Startegis Negara

Leave a Reply