Putin, Al Qaeda dan Terorisme

by -382 views
Russia's President Vladimir Putin

Masyarakat Dunia mungkin sebagian besar tidak asing dengan sosok atau pemikiran Barrack Obama dan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat. Banyak pemberitaan seputar pribadi, gagasan dan kebijakan kedua tokoh itu dimuat disebarluaskan oleh banyak media massa dunia. Bahkan dapat disimpulkan hampir semua berita terkait tokoh Amerika itu menjadi ‘headline’ media.

Berbeda halnya dengan Vladimir Putin atau presiden Rusia yang dapat dikatakan jarang mendapat liputan luas seputar kehidupan pribadi atau perspektifnya terhadap berbagai hal yang menjadi isu utama global.
Wawancara khusus dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dilakukan oleh Oliver Stone, sutradara terkenal dari Amerika yang melahirkan film-film peraih penghargaan Oscar dipastikan menjadi sumber informasi menarik, berharga sekaligus merupakan kesempatan langka yang sulit diperoleh pada masa sebelumnya.

Wawancara Stone pada Putin berlangsung beberapa kali dalam beberapa kesempatan sepanjang tahun 2016-2017 di Moscow, Rusia.

Melalui wawancara yang rekaman videonya sudah ditayangkan sejak tahun lalu, masyarakat dunia dapat lebih mengenal Rusia, Putin dan perspektifnya mengenai berbagai isu utama dunia.  Perspektif Putin tentu menjadi masukan berharga dan sangat penting untuk dapat memahami konstelasi politik global secara utuh. Informasi Putin membantu terwujudnya opini dunia yang lebih sehat dan berimbang, setelah sekian lama opini dunia dibentuk secara sepihak dari dominasi Amerika.

Berikut ini diturunkan cuplikan pertama dari transkrip wawancara Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Oliver Stone.

Putin, Al Qaeda dan Terorisme

Bicara tentang pemerintah Amerika Serikat, tentu menganggap Rusia sebagai rival sekarang. Presiden Bush menyebut Putin sebagai orang yang dapat dipercaya.

Saat Bush memutuskan invasi militer ke Afganistan (7 Oktober 2011), Putin memberi dukungan dengan melalui kerjasama dan penggunaan fasilitas militer Rusia yang berada di sepanjang perbatasan Afganistan-Rusia.

Hasil gambar untuk putin wawancara with stone

“Kami mengizinkan AS menggunakan wilayah kami untuk menyuplai senjata, bantuan informasi intelijen, telekomunikasi dan transportasi militer, dan lainnya,” ungkap Putin pada wawancara.

Stone: ”Rusia punya sejarah panjang di Afganistan. Jadi, bagaimana kalian tidak mengetahui di mana Bin Laden dan apa yang terjadi sesungguhnya?”

Putin: ”Al Qaeda bukan hasil dari aktivitas kami (Rusia). Ini adalah hasil dari aktivitas Amerika. Semua bermula sejak Perang Soviet di Afganistan 1979-1989. Ketika itu petugas-petugas intelijen Amerika memberikan dukungan kepada fundamentalisme Islam dengan berbagai bentuk. Amerika membantu mereka melawan prajurit Soviet di Afganistan. Amerika sendiri yang memelihara Al Qaeda dan Bin Laden. Namun, semua kemudian lepas kontrol, dan itu selalu terjadi. Amerika seharusnya sudah sadar akan hal tersebut. Amerika yang harus dipersalahkan dalam hal ini”.

Stone: “Direktur CIA William Casey era Ronald Reagan (1981-1987) membuat upaya khusus untuk menarik muslim di daerah pegunungan Kaukasus Asia Tengah agar melawan Uni Soviet. Rencananya jauh lebih besar dari sekedar mengalahkan Soviet di Afganistan. Dia ingin penggantian rezim di Uni Soviet”.

Putin: “Kau tahu, gagasan itu (rencana Amerika menggulingkan rezim) masih ada hingga kini. Masalah ini muncul di Checnya dan Kaukasus. Amat disayangkan, Amerika membantu gerakan separatisme tersebut. Kami beranggapan bahwa Perang Dingin benar-benar telah berakhir, kami akan memiliki hubungan yang transparan dengan Amerika dan Eropa, berharap Rusia mendapat dukungan mereka (terkait separatisme), tapi yang terjadi sebaliknya. Kami malah menyaksikan Badan Intelijen Amerika membantu gerakan separatis. Dulu kami punya keyakinan ketika Amerika mengatakan akan membantu Rusia, bekerja sama termasuk dalam melawan terorisme, tapi ternyata Amerika menggunakan situasi/krisis politik yang timbul dari separatisme/terorisme tersebut untuk mengacaukan stabilitas politik dalam negeri Rusia”.

(Pada tahun 2002 terjadi aksi terorisme di Teater Dubrovka Moscow. Sejumlah teroris menyandera pengunjung teater. Aksi terorisme ini menewaskan sedikitnya 170 orang tewas: 133 sandera dan 40 teroris. Pada 2004, penyanderaan oleh teroris kembali terjadi di sebuah sekolah di Beslan, Ossetia yang berakhir dengan jatuhnya korban tewas 385 orang, di antaranya 186 anak-anak)

Stone: “Apa momen paling berbahaya selama Perang Checnya?”

Putin: “Saya kesulitan mengingat peristiwa itu secara detail. Apa yang disebut Amerika sebagai Perang Checnya bermula saat masyarakat sipil di Republik Dagestan yang mayoritas muslim mempersenjatai diri mereka dan mengobarkan perlawanan terhadap terorisme. Saya masih ingat, Dagestan minta bantuan kami dalam melawan terorisme. Mereka katakan, jika Rusia tidak mau melindungi kami, cukup persenjatai kami dan kami akan melakukannya sendiri (melawan terorisme).

Stone: “Amerika membantu secara diam-diam. Anda bilang punya bukti Amerika membantu pihak Checnya?”

Putin: “Tentu kami punya. Secara terbuka Amerika menunjukkan kepada dunia bahwa mereka mendukung separatisme Checnya. Itu saja sudah jelas tampak bagi semua orang. Tidak perlu ada bukti lagi diperlukan. Kami punya bukti dukungan finansial dan intelijen Amerika kepada Checnya. Bahkan kami sudah sampaikan bukti itu secara langsung kepada Amerika. Ada momen khusus di mana saya sampaikan kepada Presiden Bush, termasuk daftar nama petugas intelijen Amerika (CIA) yang terlibat. Dan mereka tidak hanya menyediakan dukungan politik saja, tetapi juga dukungan teknis seperti transportasi pengangkutan para milisi Checnya. Tanggapan Bush sangat negatif. Dia bilang akan memeriksa kebenarannya kembali secara hati-hati. Kemudian kami menerima surat dari CIA, yang mengatakan bahwa mereka (CIA/AS masih punya hak menjalin kerjasama dengan pihak musuh kami. Kerjasama Amerika dengan Separatis/Teroris Checnya itu terus berlanjut. Amerika terlibat jauh ke dalam struktur dan organisasi teroris”.

Stone: “Ini semua terjadi pada saat yang sama ketika Amerika melawan teroris di Afganistan? Ini aneh. Seperti perilaku yang bertentangan. Sungguh sulit dibayangkan”.

Putin: “Kami (Rusia) sudah terbiasa dengan perilaku kontradiksi Amerika”.

Leave a Reply