Penggunaan Atribut Mirip ISIS – Teroris Pada Anak TK – PAUD Harus Diusut Tuntas

  • Whatsapp

Hasil gambar untuk Atribut Mirip ISIS - Teroris Pada Anak TK - PAUD

Gardaindonews: Penggunaan atribut mirip ISIS atau kelompok teroris oleh kelompok peserta anak-anak Taman Kanak-kanak dan PAUD pada pawai budaya dalam memeriahkan HUT RI ke-73 di Probolinggo pada 17 Agustus kemarin tidak boleh dianggap sepele. Selain merusak jiwa dan karakter anak usia dini, penggunaan atribut seperti itu menimbulkan fitnah besar kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam. Demikian menurut pendapat Deni Nugraha Direktur Lembaga Kajian Strategis Negara (LKSN).

“Polisi dan semua aparat terkait harus menyelidki sungguh-sungguh latar belakang, motif dan tujuan dari oknum penanggungjawab penggunaan atribut menggambarkan kelompok radikal bersenjata pada anak-anak itu. Harus ditelusuri juga apakah oknum penanggungjawab itu bertindak atas inisiatif pribadi sendiri atau ada kelompok jaringan di belakangnya. Hal ini tidak boleh dibiarkan,” tegas Deni kepada Gardaindonews, Minggu 19 Agustus 2018 di Jakarta.

Acara Pawai Budaya memeriahkan Hari Kemerdekaan RI di Kota Probolinggo pada Jumat 17 Agustus kemarin digegerkan dengan penampilan peserta pawai yang menggunakan atribut mirip ISIS dan teroris. Selain bercadar menutup semua wajah kecuali mata, memakai berjubah hitam serta membawa senjata mainan dari kayu. Lebih mengenaskan lagi, kelompok peserta pawai budaya yang menggunakan atribut itu adalah anak-anak TK dan PAUD.

Penampilan anak-anak yang tidak sesuai kaidah itu menjadi viral di media sosial dan menjadi topik perbincangan di masyarakat.  Banyak warga sangat menyesalkan dan mengeritik keras kejadian itu. Publik dan media semakin gemas ketika mengetahui anak-anak peserta berartibut kelompok teroris itu adalah dari TK Kartika V – 69 di bawah pembinaan Kodim 0820 Probolinggo.

“Dapat kita simpulkan bahwa para guru atau pendidik dan di kalangan TNI masih ditemukan oknum yang tidak memahami bahaya besar yang ditimbulkan dari ketidaktahuan atau kekurangpahaman terhadap terbentuknya persepsi publik yang merugikan bangsa Indonesia dengan penggunaan atribut tertentu yang kerap dikonotasikan sebagai identitas teroris, radikalis atau ISIS,” jelas Deni menambahkan.

Kepastian mengenai anak -anak peserta pawai dimaksud dari TK Kartika V – 69 dibenarkan Kepala Dinas Pendidika, Pemuda dan Olahraga Kota Probolinggo, Muhammad Maskur. “Dari 158 peserta, hanya satu peserta yang mengenakan jubah dan cadar yakni TK Kartika V 69,” ujar Maskur kepada wartawan, Sabtu (18/8/2018).

Klarifikasi disampaikan oleh Hartatik Kepala Sekolah TK Kartika V 69 Probolinggo. Menurutnya, seragam yang dikenakan anak didiknya saat pawai budaya, bukan seragam baru, melainkan memfungsikan seragam lama yang dimiliki sekolahnya.

“Untuk menghemat beban biaya wali muridnya,” ujar Hartatik.

Ia menegaskan tidak ada niatan untuk mengajarkan kekerasan kepada anak didiknya, apalagi terorisme. Ia menyadari telah melakukan kesalahan besar.

“Anak-anak mengenakan seragam pawai bercadar dan menenteng senjata itu mengangkat tema “Perjuangan Bersama Rosulullah Untuk Meningkatkan Iman dan Taqwa”. Bukan menunjukkan hal yang berbau teroris yang dimaksud warganet, saya minta maaf kalau memang saya salah,” katanya saat kepada media

Sedangkan ketua panitia pawai budaya, Supini (50) mengaku kecolongan dan lalai karena tidak melakukan seleksi sebelum pelaksaan pawai budaya.

“Saya selaku ketua panitia minta maaf, merasa lalai tidak melakukan selektif peserta pawai budaya ini, dan akhirnya acara pawai budaya dari peserta menggunakan baju cadar bertema pasukan Rosulullah saat memerangi orang kafir,” jelasnya.

Permintaan maaf juga disampaikan Dandim 0820 Probolinggo di mana TK Kartika V 69 bernaung. Ia meminta maaf atas keteledoran yang terjadi.

“Saya sudah koordinasi ke pihak sekolah, dan diakui bahwa aksesoris yang dipakai, murni memanfaatkan barang-barang yang ada. Tidak ada unsur lainnya, baik niatan menyebarkan faham radikalisme ataupun terorisme,” kata Dandim 0820 Probolinggo Letnan Kolonel Depri Rio.

Sementara itu, Kapolres Probolinggo Kota, AKBP Alfian Nurrizal akan memanggil panitia yang terlibat, pihak TK Kartika V 69 untuk diperiksa secara intensif.

Upaya ini dilakukan untuk memastikan ada tidaknya unsur kesengajaan pada pemilihan atribut tersebut. “Kita akan terus melakukan pemeriksaan dan penyelidikan atas kasus ini, jika terbukti bersalah kita akan lakukan upaya sesuai undang-undang yang ada,” tegas Alfian.

Pawai karnaval TK dan PAUD se-Kota Probolinggo kemarin digelar untuk memeriahkan HUT RI ke-73 di Kota Probolinggo pada hari Sabtu (18/8/2018). Pawai ini mengambil rute di sepanjang jalur protokol Kota Probolinggo, mulai Jalan Panglima Sudirman (depan Pemkot)-Jalan Suroyo-hingga Alun-alun Kota Probolinggo.

Related posts