Pelaku Pasar Khawatir dengan Ekonomi Indonesia

  • Whatsapp
Anthony Nafte

GardaIndoNews – Perusahaan investasi global mulai sedikit skeptis dengan ekonomi Indonesia. Penundaan reformasi struktural dan kejatuhan harga komoditas membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia susah bergerak dari level 5,2%.

CLSA, salah satu perusahaan investasi berbasis di Hong Kong, dalam kajiannya dengan judul “Eye on Asian Economies” yang terbit Juni lalu menyebutkan, ekonomi Indonesia pada 2019 dan 2020 hanya pada kisaran 5,2%.

Analis CLSA Anthony Nafte, dalam riset tersebut menyebutkan ekonomi Indonesia sebenarnya sempat bergerak naik pada pertengahan 2017, yang didorong oleh pertumbuhan investasi jangka panjang. Namun pada akhir 2018 ekonomi Indonesia mulai menghadapi tantangan dan melambat.

Ketidakpastian sebelum pemilihan umum menyebabkan pertumbuhan investasi dari sektor swasta melambat. Namun hingga pemilu selesai, juga belum tampak ada sinyal pertumbuhan investasi dari sektor swasta.

Impor barang modal turun di akhir 2018. Pada saat yang sama kredit perbankan hanya tumbuh 13,1%.

Gejala penurunan ekonomi semakin tampak saat penjualan semen dalam lima bulan pertama 2019 turun 3,6%, padahal pada semester I-2018 naik 5,6%. “Ini menjadi sinyal suram bagi sektor konstruksi yang meliputi 75% dari total investasi,” kata Anthony, dalam riset tersebut.

Selain itu, Anthony, juga menilai penurunan harga komoditas juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan memperbesar defisit neraca dagang. Penurunan harga komoditas tersebut, membuat ekonomi Indonesia sulit untuk tumbuh lebih dari 5,2%.

Sementara itu, Valbury Sekuritas Indonesia dalam risetnya memberikan penilaian pemerintah berusaha untuk menekan defisit neraca perdagangan dengan berbagai langkah. Salah satu caranya adalah menggeser produk ekspor dari barang mentah menjadi produk olahan.

“Karena dengan meningkatkan fungsi nilai tambah industri dapat memperbaiki neraca dagang. Selian itu, membuat nilai ekspor meningkat dan menekan defisit,” sebut riset Valbury.

Menurut Valbury, kinerja ekspor hanya dapat tumbuh agresif apabila terjadi lonjakan kapasitas produksi. Selama beberapa tahun terakhir diketahui bahwa neraca dagang Indonesia terus meningkat dari defisit menjadi surplus hingga 2017.

Namun, di tahun 2018, neraca perdagangan kembali menjadi defisit. Demikian sepanjang Januari hingga Mei 2019, neraca dagang terpantau masih mengalami defisit. Defisit transaksi yang melembar pengaruhi kepercayaan pasar karena kondisi ini menggambarkan Indonesia benar-benar kehilangan sumber dolar.

Kekhawatiran para pelaku pasar saham Indonesia inilah yang tampaknya membuat kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sulit bergerak naik. Secara year to date hingga perdagangan kemarin, kinerja IHSG tercatat hanya naik 2,71%.

Kinerja IHSG bahkan sempat minus karena kekhawatiran terhadap ekonomi global dan domestik, serta faktor ketidakjelasan politik sebelum pemilu.

Related posts