Ma’ruf Amin: Jangan Berkecil Hati Hadapi COVID-19

  • Whatsapp

Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengajak seluruh pihak tidak berkecil hati menghadapi pandemi Covid-19. Sebab, krisis yang dialami Indonesia juga dialami oleh negara lain.

“Kita tidak perlu kecil hati menghadapi krisis kesehatan yang melanda pendidikan kita. Sebab, yang kita alami saat ini juga dialami oleh lembaga-lembaga lain. Negara kita dan negara lain pun sedang bergelut mengatasi pandemi ini,” katanya dalam Konferensi Besar NU, Rabu 23 September 2019.

Read More

Bahkan, kata dia, negara-negara maju juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Menurutnya, tidak ada satu negara pun yang siap menghadapi pandemi ini. Maka wajar jika IMF menyebut pandemi ini sebagai ‘crisis like no other’ atau krisis yang tak ada bandingannya.

“Pandemi ini telah menyebabkan terjadinya krisis kesehatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya,” ujarnya.

Ma’ruf menambahkan, belajar dari krisis kesehatan ini, tampak benderang di depan mata bahwa betapa lemahnya tata-kelola kesehatan baik di tingkat nasional maupun global. Pemerintah pun menyadari tak mungkin bisa mengatasi pandemi ini sendirian.

“Kerja-sama atau gotong-royong antara unsur-unsur negara dan seluruh lapisan masyarakat menjadi kata kunci kesuksesan mengatasi pandemi ini,” terangnya.

Selain itu, Ma’ruf pun atas nama pemerintah menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) serta jajaran pengurus di bawahnya yang telah aktif berperan-serta mengatasi penyebaran virus Covid-19 ini.

Dia bilang, PBNU melalui berbagai kegiatan yang dilakukan tim Satgas Covid-19 nya telah banyak membantu pemerintah dalam menanggulangi pandemi ini.

“Pemerintah percaya bahwa apa yang dilakukan oleh seluruh jajaran pengurus Nahdlatul Ulama adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaan yang sangat mulia. Semoga segala upaya, juga inisiatif mulia yang telah dilakukan mendapat balasan di sisi Allah SWT,” ujarnya.

Selain itu, Ma’ruf menilai, PBNU adalah organisasi pioner yang mampu meletakkan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan menjadi satu tarikan nafas dalam dakwah dan perjuangan bangsa Indonesia.

“Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah mampu menjalankan tugas-tugas besar dalam bidang kebangsaan dan keumatan,” katanya.

Konfrensi besar, lanjut Ma’ruf, adalah forum terbesar kedua setelah muktamar. Karenanya dia berharap hasil dari jalannya konfrensi besar dapat merumuskan kebijakan penting organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.

“Ini adalah intangible asset (asset non fisik) yang tak banyak dimiliki oleh organisasi-organisasi keagamaan yang lain,” tuturnya.

Menurutnya, jalannya konfrensi besar harus menjawab tantangan masa depan. Mengutip kata mutiara yang terkenal dari Sayyidina Ali, Al haqqu bilaa nidzoomin yaghlibuhul baathilu bin nidhoom yang artinya, kebenaran yang tak terorganisasi dengan baik akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi secara sistemik.

“Saya optimis bahwa NU mampu menjawab semua tantangan yang dihadapinya, sehingga kita dalam berorganisasi tidak menjadi bagian yang dikhawatirkan oleh kata mutiara yang diucapkan oleh Sayyidina Ali tersebut,” tutupnya./J01

Related posts