Kematian Akibat Covid 1.300, Akibat Stroke 220.000 Mana Lebih Mengkhawatirkan

  • Whatsapp

Ini adalah kritik sekaligus saran dan masukan untuk pemerintah khususnya Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19.

Setelah mempelajari informasi resmi pemerintah dari hari ke hari mengenai perkembangan terakhir seputar pandemi dan mempelajari informasi serupa dari WHO (Badan Kesehatan Dunia) dan negara-negara lain, dapat disimpulkan bahwa informasi pemerintah Indonesia mengandung kekurangan dalam penyampaian informasi penting yang dapat mempengaruhi pemerintah dalam merumuskan kebijakan atau dalam menentukan tindakan penanggulangan pandemi terutama kebijakan atau tindakan yang mempengaruhi hajat hidup rakyat banyak.

Read More

Kesalahan dalam menentukan variabel atau faktor tertentu dapat berakibat fatal antara lain pelanggaran ham, alokasi dan penggunaan anggaran keliru, penerapan pembatasan sosial (PSBB) yang tidak tepat, stagnasi ekonomi dan dunia usaha, dan lain-lain.

Dari pengamatan pada protokol penanggulangan pandemi covid WHO dan di banyak negara khususnya dalam penyampaian informasi, penyajian data terbaru dari hari ke hari difokuskan pada jumlah kasus baru dan jumlah kematian baru. Kedua jenis informasi ini paling relevan dan dominan dalam setiap pengambilan keputusan, strategi dan kebijakan yang akan diterapkan selanjutnya.

Covid-19 adalah virus jenis baru yang belum diketahui cara tunggal yang efektif untuk melumpuhkannya pada orang yang telah terpapar.

Banyak orang dinyatakan positif terinfeksi covid-19 namun tidak berdampak medis atau tidak menimbulkan masalah kesehatan bagi mereka. Mayoritas yang masuk kelompok / kategori ini adalah orang berusia di bawah 45 tahun dan tidak mengidap penyakit kronis tertentu. Meski demikian, pada beberapa kasus penularan virus ini tidak berdampak fatal pada pengidap penyakit bawaan tersebut.

Dari data statistik diketahui, mayoritas korban mati akibat terinfeksi virus corona adalah para dewasa pengidap penyakit kronis bawaan berusia di atas 45 tahun. Semakin tua pasien semakin tinggi tingkat kematian.

Sudah dapat dipastikan coronavirus dapat menyebabkan komplikasi serius dan menyebabkan kematian pada dewasa berusia lanjut pengidap penyakit kronis tertentu dan hampir di semua kasus tidak berdampak fatal jika terpapar pada anak dan dewasa non manula.

Covid-19 memperlemah kekebalan tubuh dalam menghadapi penyakit bawaan. Anak-anak dan dewasa non manula relatif memiliki daya tahan tubuh lebih kuat dibanding manula.

Berdasarkan fakta temuan medis tersebut di atas, WHO dan banyak negara di dunia memfokuskan perhatian dan prioritas penanggulangan pandemi pada penemuan kasus baru dan jumlah korban mati pada kasus baru.

Penanggulangan dinilai berhasil terutama bila terjadi penurunan angka kematian pada kasus baru. Singkatnya, peningkatan jumlah kasus baru yang tidak disertai peningkatan angka kematian baru sudah dapat diartikan sebagai keberhasilan meski tidak maksimal.

Temuan kasus baru yang meningkat tidak otomatis menggambarkan skala pandemi yang meluas karena fokusnya adalah pencegahan dampak akibat penyebaran covid dan bukan semata-mata penyebaran covid-nya.

Virus sudah ada sejak dulu kala dan akrab dalam kehidupan manusia. Eksistensi virus bukan merupakan ancaman selama tidak membahayakan atau berdampak fatal bagi manusia.

Fokus dan prioritas penanggulangan covid adalah pada dampaknya bukan semata-mata penyebarannya.

Pandemi Covid di Indonesia

Pemerintah Indonesia harus mengubah fokus dan prioritas dengan lebih memperhatikan korban mati kasus baru ketimbang hal lain.

Setiap laporan korban mati kasus baru harus diteliti dan diuji komprehensif:  Sungguh-sungguh memastikan penyebab kematian adalah akibat komplikasi penyakit awal yang terinfeksi covid.

Perubahan pada fokus dan prioritas ini terlihat sepele namun sangat efektif dalam menanggulangi pandemi sambil menunggu ditemukan vaksin untuk mengatasi virus tersebut.

Penanggulangan pandemi juga dapat dinilai efektif jika angka kematian setiap hari dilaporkan stabil atau menurun. Kita dapat mengabaikan target 0 (nil) korban mati kasus baru selama masih banyak rakyat Indonesia pengidap penyakit TBC, radang paru, gangguan jantung, hati, dan ginjal, hipertensi, diabetes dan seterusnya, karena pengidap penyakit kronis ini yang paling terdampak dari infeksi covid.

Mayoritas rakyat Indonesia sudah lebih dulu meluap kekhawatirannya karena pemberitaan masif seputar Covid-19. Pada awalnya Pemerintah Indonesia lebih rasional dalam menyikapi keputusan WHO yang menetapkan penyebaran Covid-19 sebagai Pandemi Global. Namun kecaman keras bertubi-tubi datang dari dalam dan luar negeri mendesak Pemerintah untuk segera menetapkan status bencana nasional pada Pandemi Covid-19.

Penetapan pandemi sebagai bencana nasional melalui Keppres pada April 2020 lalu tidak ditindaklanjuti dengan penyampaian penjelasan lengkap mengenai pandemi kepada rakyat luas. Sebaliknya, pemerintah terindikasi mempunyai agenda terselubung dengan menunggangi krisis pandemi.

Informasi penting yang lalai disampaikan pemerintah kepada rakyat antara lain:

Penularan covid tidak menyebabkan kematian kepada setiap orang melainkan peningkatan risiko kematian kepada orang dengan penyakit kronis bawaan, terutama pada pasien dewasa manula.

Penularan/ penyebaran covid hampir dapat dipastikan datang dari China (Wuhan) oleh sebab itu pemerintah menutup akses bagi siapa saja orang asing asal Wuhan, China ke Indonesia dan menerapkan karantina selama minimal dua minggu bagi WNI yang kembali ke tanah air setelah berkunjung ke atau transit di Wuhan.

Pemerintah tidak mengumumkan secara luas kepada rakyat dan menghimbau setiap WNI yang pernah mengunjungi Wuhan, China pada periode Oktober 2019 hingga Maret 2020 agar melaporkan diri kepada otoritas yang dirujuk dan menghimbau warga untuk melapor jika mengetahui ada kerabat, keluarga, teman dll pernah ke Wuhan.

Pemerintah lalai berkoordinasi dengan jajaran media nasional guna mendukung penyebaran informasi yang kredibel terkait pandemi.

Dan seterusnya.

Fakta bahwa mortality rate Indonesia pada 2019-2020 adalah 0.651 persen atau angka kematian normal per hari di Indonesia dari berbagai penyebab rata-rata sekitar 5000 orang, terbanyak disebabkan oleh stroke, TBC, gangguan jantung, hati dan ginjal, diabetes, hipertensi dan seterusnya.

Kontribusi penularan virus corona adalah mempercepat kematian bagi para pengidap penyakit kronis tersebut. Dengan kata lain, jika jumlah pengidap penyakit tersebut dapat ditekan, maka jumlah korban mati akibat covid akan ikut berkurang.

Fakta bahwa pemerintah menyajikan statistik dan kurva yang menggambarkan jumlah korban mati secara akumulatif, yang dapat menimbulkan bias dalam persepsi publik karena seolah-olah  pandemi telah berdampak semakin mengerikan dari hari ke hari. Sebaiknya pemerintah koreksi dengan menyajikan tabel atau kurva yang menggambarkan angka kematian tunggal hari demi hari.

Kurva akumulatif pasti digambarkan menanjak dan tidak pernah menurun. Sedangkan kurva tunggal menggambarkan fluktuasi kurva berdasarkan data harian.

Penyajian data akumulatif dalam bentuk kurva akan melahirkan teror bagi rakyat yang bias dalam memahaminya. Penyajian data tunggal akan lebih objektif dan menghilangkan bias atau salah paham.

Pemerintah menyajikan data akumulasi kematian akibat covid-19 lebih dari 1.300 orang per 20 Mei 2020. Tanpa ada data pembanding, jumlah total kematian 1.300 akan terlihat besar. Namun, misalkan pemerintah juga menyajikan data akumulasi kematian akibat stroke, gangguan jantung dan TBC di samping data kematian akibat covid sebagai berikut:

Penyebab Kematian   Jumlah total per 20 Mei 2020

Stroke                              221.981 orang

Jantung                            118.482 orang

TBC                                   103.671 orang

Covid                                    1.300 orang

Jika data seperti di atas ditampilkan setiap hari oleh pemerintah, apa komentar anda?

Related posts