Ini Penjelasan Polri Terkait Video Viral Ambulans Ditembak Gas Air Mata

  • Whatsapp

Video ambulans yang ditembaki gas air mata beredar di media sosial. Dalam video tersebut tampak sejumlah anggota polisi mengejar ambulans dan sempat ada yang menembakkan gas air mata.

Dalam video tersebut tampak satu unit mobil ambulans ada di persimpangan lampu merah. Pintu belakang dan samping ambulans tersebut terlihat terbuka.

Read More

Di saat bersamaan, ada iring-iringan anggota polisi yang menggunakan sepeda motor dari arah berlawanan. Beberapa anggota polisi mendekat ke arah tersebut. Tampak ada polisi yang mendatangi pintu samping ambulans tersebut. Tak lama kemudian, ambulans itu melaju kencang.

Video berdurasi 25 detik yang di upload akun twitter @@Bul_Bul_EpendiĀ  ini diambil dari salah satu gedung tinggi di lokasi tersebut. Polisi terlihat melepaskan tembakan gas air mata ke arah ambulans yang melaju tersebut.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo memberi penjelasan terhadap video tersebut. Menurut Dedi ada pihak yang memang ingin membuat provokasi kemudian video yang berkaitan dengan penindakan polisi disebar di media sosial hingga jadi viral.

Padahal kenyataan di lapangan, kadang ada perusuh yang masuk ke dalam ambulans, rumah sakit, hingga tempat ibadah. Kemudian video penindakan polisi tersebut disebar di media sosial dengan narasi provokatif.

“Jadi gini, rakan-rekan sudah paham betullah. Mereka selalu memprovokasi petugas, masuk rumah sakit, masuk ambulans, tempat ibadah, masuk fasilitas publik, nanti ketika polisi masuk ada bagian yang menviralkan,” ujar Dedi di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (1/10/2019).

Dedi menyebut ada kelompok-kelompok yang telah membagi tugas seperti ada yang membuat provokasi dan ada yang mengunggah dan menyebarkan di media sosial dengan narasi yang provokatif. Dedi menyebut, narasi provokasi itu dibuat guna membakar emosi masyarakat.

“Udah ada membuat videonya, sudah ada bagian yang menfoto. Itu sudah ada tugasnya masing-masing kelompok itu. Diviralkan, dibuat narasi, upload di media sosial, membakar lagi masyarakat, mengagitasi masyarakat,” jelas Dedi.

Namun demikian, Dedi berharap masyarakat tidak terpancing provokasi tersebut. Menurutnya, masyarakat sudah tahu pola provokasi yang dilakukan guna membakar emosi masyarakat.

“Saya rasa masyarakat sudah makin cerdas pola-pola yang digunakan kelompok tersebut,” lanjutnya./J01

Related posts